Sabtu, 11 Juli 2015

bukan istimewa tempat atau waktu yang tepat untuk berdoa, tapi keiklashan mendoakan dari kita kepada mereka, dia dan beliau

bukanlah tentang senja yang selalu di eluh-eluhkan oleh mereka yang menatap angan-angan bahagia sebagai insan yang dianggap mampu mensyukuri hidup. senja dimana matahari mulai lelah dan beranjak meninggalkan siang yang begitu terik oleh cahaya matahari sendiri. dingin yang berkabut seolah-olah jadi penghalang ketika sunrise di pegunungan dan tak selalu sama dengan sunset walaupun itu di pegunungan. persamaan tempat, perbedaan waktu dan kepalsuan nama yang terkadang sering dipuja para insan bukanlah hal yang tabu untuk dinikmati. tak di pungkiri, hal semacam itu memang indah dan menghibur. istimewa tempat tersebut yang meninggalkan kesan pada setiap penikmat membuat batin berucap tanpa sengaja entah apa pun itu. ucapan dalam hati yang tak tertebak olah siapa pun kecuali Yang Maha Esa dan mungkin saja bisa disebut doa menjadi refleks yang tak terbendung ketika melihat kemegahan yang sekaligus berucap manis di bibir. disertakan batin yang menggumam untuk beliau, dia dan mereka yang tak selalu setuju dengan tujuan-tujuan adam. beliau yang kadang tidak menyetujui keinginan dan kemudian kita membangkang maka disitulah kita berusaha menilai bahwasanya akan ada ucapan istimewa dalam hati yang menyertakan kita di jalan yang kita pilih. tak menutup kemungkinan jika semua akan tercapai berkat ucapan istimewa dalam hati atau yang disebut dengan Doa dari beliau yang mencintai kita sepenuh hati tanpa pamrih sedikit pun tanpa melihat kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, maka dari sinilah kita sebagai orang yang dicintai membalas melalui refleks dari ucapan hati yang istimewa sambil menikmati tujuan yang mungkin hampir atau sudah tercapai.

      ada waktu di mana kita mulai menanggapi keluh kesah mereka, menolong mereka dan mendoakan mereka tapi ada waktunya juga di mana kita diklashkan untuk meninggalkan mereka sejenak demi tujuan dan memberikan waktu untuk mereka memberi support untuk kita yang sedang berusaha. tiada ikatan pasti antara kita dan mereka tapi mempunyai kemistri tersendiri antara insan Tuhan yang ditakdirkan mengenal satu dengan yang lainnya dan kemudian terjalin sebuah ikatan tanpa ucapan yang disebut kawan. salam sapa yang menjadi pembukaan ketika berjumpa dan dilanjutkan canda tawa tak terlewatkan jika kebersamaan mulai terjalin. terkadang dosa menjadi bahan tertawaan walaupun itu terlarang. kesombongan tentang angan-angan istimewa yang berusaha dicapai demi kelanjutan hidup yang harus dan dipastikan sukses sesuai dengan penjabaran sukses secara pribadi, maka katakanlah pada mereka "terkadang kita akan merasa lupa pada kenangan yang disebabkan pemikiran-pemikiran masa depan dan dari situlah terlihat siapa yang lebih dewasa. dewasa bukanlah siapa yang menegur, siapa yang mendekat dan siapa yang menjauh tapi siapa yang dapat adaptasi dengan situasi yang tidak biasa seperti ini, situasi yang dapat memahami antara kita dan itulah yang disebut kawan".

"lebih dari 1/4 dari umurku aku mengenalmu
lebih dari tingginya gunung aku menyanjungmu
akan tetapi hanya beberapa meter dalamnya aku memilikimu"

       apakah itu arti kesedihan? mungkin saja, karena ada sanjungan dan kekecewaan. tapi apakah disitu tidak ada doa? belum tentu, sekeras apapun hati manusia tetap ada sisi lembut dimana ia akan mengucapkan kalimat yang tak bersuara demi dia yang sudah tiada. terucapnya doa tidak selalu untuk mereka yang telah tiada karena doa itu pantas untuk semua situasi. tiada tidak selalu mati dan ada tidak selalu hidup semua yang dimiliki manusia tidak sempurna hanya cintalah yang disebut sempurna namun bukan berarti tidak dapat sirna dan waktulah yang dapat merubah semua. "untuk dia yang berpegang teguh pada prinsip, berikan dia kelancaran sebagai manusia yang mempunyai tujuan dan berikan kepantasan atas perilakunya" doa yang seperti ancaman, doa yang mungkin akan tercapai sesuai tindakan dan doa yang terpenuhui dengan ikhtiarku dan perilakumu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar